Rabu, 21 Juli 2021

Sebuah Perjalanan Hidup

2006

“Noni doain Mama, ya.” Kata Mamaku yang terbaring lemas di atas ranjang UGD rumah sakit. Aku hanya mengangguk, lalu membawa pispot berisi air kencing Mama ke luar, dan membuangnya ke toilet. Umurku 13 tahun waktu itu dan baru pertama kalinya dalam hidup aku membuang air kencing. Sekembalinya aku ke UGD, Mama sudah pindah ke ruang rawat inap. Tubuhnya sudah ditempeli berbagai macam alat, aku memperhatikan kabel-kabel yang ada di dadanya.

Keesokan harinya, aku menerima kabar bahwa Mama sudah tiada. “Noni doain Mama, ya...” Kalimat terakhir yang kudengar dari Mama itu seakan menggema dibenakku. “Ma, aku sudah berdoa. Tapi sepertinya Tuhan tidak dengar...”   

2009

Selama tiga tahun aku mengabaikan Tuhan, pergi ke gereja ketika ingat saja. Ada rasa enggan yang ketika dewasa aku baru sadari bahwa itu adalah wujud marahku pada Tuhan. Mengapa Tuhan tidak menjawab doaku? Tuhan sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan hidupku.

Hingga pada saat libur kenaikan kelas, aku diajak oleh ibu Pendeta untuk mengikuti Youth Camp, acara retreat tahunan denominasi gerejaku. Dengan setengah hati aku mengikutinya, 4 hari 3 malam di kota Batu. Ini kali pertama aku mengikuti retreat.

Air mataku mengalir deras seperti hujan yang tak terbendung. Mulutku sudah tidak bisa lagi menyanyi. Kasih Allah seakan melingkupiku. Tersadar betapa berdosanya diri ini dan Allah mau mengampuniku. Aku memutuskan untuk menyerahkan hidupku kepada Tuhan. Setiap rangkaian acara Youth Camp kala itu dipakai Tuhan untuk membawaku kembali kepada-Nya.

2010

Umurku sudah 17 tahun dan selama setahun belakangan bisa dibilang, aku menjalani hidup yang berbeda dari sebelumnya. Aku merasa bersalah tiap kali melakukan dosa, seperti mencontek misalnya. Aku putus dengan pacarku yang berbeda agama. Aku tidak bisa melewatkan waktu teduh sehari pun. Kurasa, inilah yang dinamakan cinta mula-mula. Aku mengikuti Youth Camp kembali di tahun ini.

“Noni, tadi kamu maju ya waktu altar call?” Tanya seseorang di antara segerombolan gadis yang sedang duduk di sudut kamar. Ada sekitar 5 orang teman sekamarku saat itu.

“Iya, kenapa?” jawabku sambil menghampiri mereka. Aku tersenyum menatap mata mereka yang bengkak karena menangis.

“Itu tadikan panggilan untuk yang mau jadi hamba Tuhan.” Kata gadis itu lagi. Aku tertegun mendengarnya. Oh ya? Aku tidak menyadarinya. Entah mengapa tadi aku bisa tergerak maju ke depan untuk didoakan. Aku terduduk diujung ranjang. Hamba Tuhan? Bagaimana mungkin? Aku tidak mau! Tuhan, yang tadi itu aku pasti melakukan kesalahan.

2011

Selasa, 13 April 2021

Kau adalah




Kau adalah yang mampu menyelami luasnya kedalaman hayalku. Menjelajahi liar dan tajamnya belantara pikirku. 
Teman menatap langit yang penuh dengan bintang dan heran mengapa kita tidak pernah bisa bosan. 
Kau adalah kekuatan yang terbungkus dalam bingkai kelembutan.
Kau adalah yang sabar tetapi juga tegas ketika ego mulai menguasaiku. 
Di saat matahari mulai bersinar di ujung timur pantai, kau adalah senyum yang aku inginkan ada di sampingku untuk merangkum semuanya. 
Kau adalah lagu yang akan selalu aku nyanyikan di hari yang hujan. Besi untukku mengasah diri. 
Kau adalah seteguk teh hangat yang memeluk perutku ketika kedinginan. Kasih yang mengingatkanku akan betapa murah hatinya Tuhan. 

Senin, 01 Maret 2021

Perbincangan Bersama Mama

 "Ma, barusan aku menonton film. Katanya, puisi itu adalah lagu tanpa nada." Aku berhenti sejenak. Menatap Mama yang sedang membelakangiku dan menatap ke luar jendela. Aku mendesah panjang, "Aku iri dengan Lara Jean. Mengapa di film semua perempuan cupu dan kutu buku memiliki kisah cinta yang indah? Tapi tidak denganku." Mama kemudian menatapku dengan matanya yang teduh. Dia kemudian duduk di sampingku. Aku mendekatinya dan memeluk tangannya. 

"Ayah pernah bilang, katanya Mama itu cintanya Ayah. Aku belum bertemu Ma, dengan orang yang dengannya aku jatuh cinta. Apakah itu aneh?" Mama membelai rambutku lembut. 

"Ini memang belum waktunya, kan? Aku sungguh berharap begitu." Aku berubah posisi tidur dipangkuannya. 

"Ma, kalau Mama masih ada, kira-kira apakah Mama juga akan jadi orang yang menuntutku untuk segera menikah? Atau Mama akan memberiku wejangan? Wejangan seperti apa?" Hanya hening yang tersisa dan angan tentang sosok ringkih dari masa lalu itu lenyap.

Kamis, 07 Januari 2021

Curahan Hati di Awal Tahun



Hai!

Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog. Rindu rasanya menulis isi hati dan pemikiranku di blog pribadi. Selamat tahun baru 2021 ya!

Aku tidak tahu siapa yang akan membaca artikel ini, tapi aku harap kalian bisa mendapatkan sesuatu dari membaca tulisan ini yah.

Oke, mari kita mulai.

Pada bulan Mei tahun ini, akan menjadi tahun ke 4 aku melayani di sebuah lembaga Kristen. Sebagian orang sudah tahu ceritanya, bagaimana aku bisa memutuskan untuk melayani penuh waktu. Aku sempat menuliskan di sini dan membuat podcast tentang ini.

Semua karena anugerah Tuhan kalau aku boleh melayani hingga saat ini. Aku sungguh menikmatinya. Namun, bukan berarti aku tidak pernah mengalami kesulitan atau tantangan selama melayani. Seringkali aku berjuang untuk melawan kedaginganku, ingin sekali untuk menuntut hak, merasa layak tapi juga insecure secara bersamaan. Bingung kan? Hehehe. Rasanya, sungguh nano-nano.

Selasa, 02 Juli 2019

Sebuah Obrolan Bersama Gadis Kecil


 Ada seorang gadis berusia 13 tahun, baru-baru ini dia sering mengajakku untuk berbicara. Rambutnya yang ikal pendek sebahu dan senyum polosnya selalu menyapa saat diri ini sedang gundah gulana. Malam ini ketika hujan jatuh memeluk bumi, dia berkata “Kau tau tidak. Kadang aku hanya rindu omelan ibuku ketika aku lupa menaruh handuk basah di kasur.” Aku tersenyum dan menatapnya. Dasar anak kecil, pikirku.
“Bukankah omelan itu menyebalkan?” tanyaku pada gadis itu. Dia kemudian terdiam dan menatap langit malam berharap menemukan setitik bintang. Kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata “Terkadang ketika aku melihat seorang ibu bersama anaknya, aku berusaha mengingat ketika dulu ibuku masih ada.”
“Lalu kau berhasil mengingatnya?”
“Aku lupa, jika ingat mungkin aku tidak akan sesedih ini.” Katanya dengan sendu.
“Akan jauh lebih baik jika kau lupa, kau tidak akan bersedih lagi.” Kataku kemudian, yang hanya memperburuk suasana hatinya. Aku memperhatikan mata gadis itu yang tak lepas menatap langit.
“Aku takut.” Suaranya memecahkan keheningan malam. Hujan turun semakin deras diikuti suara guntur.

Senin, 20 Mei 2019

Fokus


"Noni saudaramu sudah menikah loh, kamu kapan? Kamu nggak kepengen menikah ta?" 
Tanya seorang teman kepadaku. Pertanyaan klise yang sudah beberapa kali aku terima.
"Ya kepengen, lah... Cuma ya belum." 
"Kapan?"


Kapan.
Sebuah kata yang akhir-akhir ini begitu akrab di telinga. Bagaimana mungkin aku bisa menjawab pertanyaan yang hanya Tuhan yang tahu jawabannya? Dalam sebuah perjalanan aku telah berdamai dengan kata kapan. Berusaha berteman dengan kata itu dan menikmati jawaban yang tak kunjung ditemukan.


Satu hal yang aku ketahui pasti, Allah yang memegang kendali atas waktu, rencana-Nya sempurna. Aku tidak perlu mengetahui kapan tepatnya atau bahkan siapa. Aku hanya perlu percaya.

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."
Yeremia 29:11

Senin, 22 April 2019

Berpikir Untuk Ngasih Kode ke Doi? Ini 5 Hal Yang Bisa Jadi Pertimbangan Buatmu


Photo by Larm Rmah www.unsplash.com
Apa sih maksudnya ngasih kode? Kayak sandi morse pas pramuka itu ya? Memberi kode biasa dilakukan ketika kita ingin memberi tau sesuatu tapi tidak secara langsung kepada seseorang. Misalnya kita sedang menyukai seseorang dan berharap dia memperhatikan kita tanpa kita katakan secara langsung, kita mencoba memberikan sebuah kode dengan berbagai macam cara.

Cara yang paling sering dilakukan biasanya dengan menggunakan sosial media.
Banyak fitur sosial media yang bisa digunakan untuk memberi kode seseorang. Instagram stories, feeds, whatsapp stories, re-share konten yang berkaitan dengan isi hati kita saat itu di semua sosial media kita misalnya. Aku pernah membaca sebuah komentar, ‘kok dia nggak peka-peka sih!’ karena kode yang dia buat selalu gagal.

Kode bisa dilakukan oleh seorang remaja maupun orang yang sudah dewasa, orang yang single maupun yang sudah pacaran. Kode yang akan aku bahas di sini adalah kode yang dilakukan oleh kaum single buat gebetannya ya. Wkwkwk.

Pertanyaannya, ngasih kode itu perlu nggak sih sebenernya? Jujur, aku juga pernah ngasih kode loh. Hahaha. Perlu kita perhatikan, sesuatu bisa dikatakan kode itu tergantung motivasi kita ya. Bisa jadi kita hanya ingin berkeluh kesah tapi orang menganggapnya kode lho. Nah, jika kita dengan sadar memberi kode kepada seseorang, ada 5 hal yang bisa jadi pertimbangan kita sebelum kita memberi kode atau sinyal-sinyal sama doi nih:

Jangan harap dia akan notice atau sadar
Namanya juga kode, kita tidak bisa menuntut orang lain akan mengerti karena komunikasi yang kita lakukan tidak jelas. Tidak salah jika akhirnya dia tidak peka atau tidak memahami kita. Dia bukan cenayang alias dukun gaes, dia juga bukan Tuhan yang Maha Tahu. Dia hanyalah manusia. Karena sama-sama manusia maka kita perlu berbicara menggunakan cara yang bisa dipahami oleh kedua belah pihak supaya terjalin hubungan yang baik. Bersyukur nih, kalau doi bisa paham sama yang kita maksud. Tapi jangan marah kalau dia nggak paham ya, mending diomongin langsung. Kamu mau dia tau kalau kamu peduli? Ya tunjukkan, dengan sikap jangan kode. Tuhan Yesus nggak ngasih kode waktu mengasihi kita. Meskipun kelahiran dan pengorbanannya sudah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya, tapi kasih Allah kepada kita selalu dalam tindakan nyata. Dia turun dari surga jadi manusia. Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (1 Yohanes 3:18)

Minggu, 17 Maret 2019

Pentingnya Berdoa Saat Lagi Suka-sukanya

Photo by DESIGNECOLOGIST www.unsplash.com

Wanita umumnya menyukai drama. Mulai dari drama Korea hingga drama India. Tak ayal itu yang membuat wanita juga berpikir dan berkhayal bahwa hidup itu seperti drama. Tidak ada wanita yang tidak menyukai perhatian, hadiah, dan kata-kata indah. Dan wanita (aku hanya bisa memberi pendapat dari sudut wanita) ketika sudah memberikan hatinya, biasanya dia akan dengan sepenuhnya memberikan apa yang dia miliki, loyalitas, kesetiaan dan ketulusannya.

Raditya Oloan pernah berkata bahwa kita dapat mencintai sebesar kita rela disakiti, pertanyaannya adalah apakah kita telah mencintai orang yang tepat? Apakah kita memastikan bahwa hati kita telah berada ditangan yang tepat, seseorang yang Tuhan kehendaki ada di hidup kita?
Patah hati dapat terjadi bahkan sebelum adanya hubungan pacaran.

Minggu, 19 Agustus 2018

1 Tahun Menjalani Panggilan Tuhan: Aku Pasti Sudah Gila!


“Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku…”
Sudah 2 tahun lamanya ketika aku pertama kali mengetahui panggilan Tuhan dalam hidupku dan semenjak tulisan ini dibuat sudah 1 tahun 3 bulan aku menjalaninya. Masih  tidak percaya atau tidak terima, terkadang masih sulit membedakannya. Bulan Agustus adalah bulan yang mengingatkanku akan penyangkalan diri terbesar dalam hidupku. Ya, jika saja cawan ini boleh lalu. Jika saja aku boleh memilih. Namun disinilah aku dalam suatu kesempatan dapat bertemu dengan ratusan orang yang melayani dibidang yang sama: pemuridan. Aku adalah satu dari ratusan staf sebuah yayasan Kristen yang melayani siswa dan mahasiswa di kota-kota besar di Indonesia.
Aku rasa aku sudah jatuh cinta. Aku telah jatuh cinta dengan pelayanan ini, dengan siswa-siswa yang hidupnya kacau balau ini, aku jatuh cinta dengan Allah yang terus menyatakan kasih-Nya kepada jiwa-jiwa yang aku temui. Aku jatuh cinta terhadap cara Tuhan yang mau memakai manusia sepertiku menjadi alat-Nya. Lalu kemudian aku berpikir, sepertinya aku sudah gila. Aku gila karena meninggalkan kesempatan untuk bekerja dibidang yang sesuai dengan jurusanku, hidup jauh dari meriah dan gemerlapnya ibu kota, dipandang remeh oleh orang-orang terdekat yang tidak memiliki misi yang sama. Aku pasti sudah ‘gila’.

Tuhan memakai orang-orang yang rela dianggap gila oleh dunia untuk menjadi alat-Nya.
Ada satu titik dimana aku takut kehilangan kewarasanku. Dalam artian, aku takut menyerahkan seluruh hidupku kepada rencana-Nya yang seringkali bagi otak manusia ini tidak masuk akal. Lalu aku teringat akan kisah Nuh saat dia diperintahkan oleh Allah untuk membuat bahtera (Kejadian 6-7) bagaimana dia tetap taat meski bisa dibayangkan, gunjingan yang dia dapat dari umat manusia kala itu. Aku juga teringat ketika Petrus dan saudara-saudaranya meninggalkan perahu mereka yang penuh dengan ikan untuk mengikut Yesus (Lukas 5:1-11), mereka pasti dianggap sudah ‘gila’ saat itu karena

Kamis, 03 Mei 2018

Gereja dan Bangku Kosong Paling Belakang

Photo by Keagan Henman, www.unsplash.com

Ada riuh yang tak bisa aku raih. Alunan musik atau ego yang sedang diimprovisasi. Lidahku kelu. Setelah tepuk tangan kau turun panggung dengan mengangkat dagu. Tak ada tatapan mata untukku. Aku adalah jeda dari keramaian. Sebisa mungkin harus ditiadakan.

Setiap acara demi acara kau bilang ini untuk jiwa-jiwa. Aku disudut bangku gereja yang paling belakang tempat yang tidak diraih bahkan oleh cahaya lampu temaram. Dengan sepatu kulit yang mulai mengelupas sedang kau membahas merek tas yang lidahku tak mampu mengejanya. Aku beranjak. Kau tak pernah tau bahwa aku pernah ada.

Rabu, 02 Mei 2018

Fenomena #Temantapimenikah dan Nilai-nilai Iman Kristen

Photo from www.layar.id

Setelah film Dilan, film yang saat ini sedang hangat diperbincangkan adalah film Teman tapi Menikah. Film yang diangkat dari kisah nyata artis Ayudia Bing Slamet dan sahabatnya Ditto ini berhasil membuat banyak orang yang menonton baper. Selain itu, pemeran utama dalam film ini adalah Vanesha Prescilla seorang artis pendatang baru yang sebelumnya berperan sebagai Milea di film Dilan. Ada pro-kontra yang disampaikan oleh netizen di sosial media terkait dengan siapa visual couple terbaik, Iqball & Vanesha atau Adipati & Vanesha. Namun tentu saja tulisan ini tidak sedang ingin membahas hal itu, melainkan tentang apakah fenomena #TemantapiMenikah ini selaras dengan nilai-nilai Kristiani.

Gary Thomas seorang penulis dan pembicara Kristen dalam bukunya The Sacred Search mengatakan bahwa persahabatan adalah jantung relasional yang memompa darah dalam pernikahan. Dan, meskipun orang seringkali tertarik satu sama lain karena chemistry seksual, pasangan suami istri sebenarnya menghabiskan waktu menjadi seorang sahabat 95% lebih banyak daripada menjadi seorang pasangan seksual. Hal ini dikarenakan chemistry seksual naik turun dengan liar dan tak teratur dari pada persahabatan relasional, yang biasanya bertumbuh semakin mendalam seiring berjalannya waktu.

Kamis, 15 Maret 2018

Tips untuk Pemimpin Kelompok Kecil

Kelompok kecil (KTB, komsel, CG dan istilah lainnya) biasanya ada di beberapa gereja yang menekankan nilai pemuridan. Ada juga beberapa organisasi Kristen yang berfokus pada pemuridan di kelompok kecil, seperti yang saat ini aku tekuni yakni Perkantas. Apa itu Perkantas? Bisa cek disini.

Jika Tuhan Yesus saja memiliki 12 murid dan kadang hanya 3 murid saja yang sering diajak kemana-mana, ini menunjukkan bahwa di dalam kekristenan, adanya kelompok kecil itu sangat penting. Kelompok ini biasanya terdiri dari 7-3 anggota dan satu orang pemimpin. Apa yang dilakukan di kelompok kecil? Tentu saja tidak hanya sekedar bermain games seru, nonton bareng, dan hang out. Tapi lebih dari pada itu, kelompok kecil adalah tempat dimana kita bisa berbagi kisah hidup, mendapat teguran, semangat dan yang terpenting: mempelajari firman Tuhan bersama.

Sebenarnya aku bukan orang yang hebat dalam memimpin kelompok kecil sehingga berani menulis tips ini. Namun aku sedikit tau jika aku menjadi seorang anggota kelompok kecil, seorang pemimpin seperti apa yang aku butuhkan. Jadi sebenarnya tulisan ini berasal dari pengalamanku yang bergabung di KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) sejak 2013 hingga saat ini ketika aku mulai memimpin beberapa kelompok.

Langsung saja, 5 tips yang bisa dilakukan jika kita sedang memimpin suatu kelompok kecil:

Menjadi pendengar yang baik
Ada beberapa orang yang sangat kesulitan menjadi pendengar yang baik, aku mengakui bahwa aku adalah orang yang dulunya suka sekali memotong pembicaraan orang. Sebagai seorang sanguinis aku sangat ingin mengambil alih suasana. Seorang pemimpin yang baik adalah seorang pendengar yang baik karena dengan mendengarlah kita bisa mengerti dan masuk ke dalam dunia orang lain. Hal ini perlu dilatih, dengan terus mengingat bahwa kisah orang lain itu penting.

Rabu, 03 Januari 2018

Bagaimana Orang yang Tepat Seharusnya?

image from www.unsplash.com

Bagaimana sih definisi yang tepat untuk menjelaskan tentang ‘orang yang tepat’ itu?
Apakah orang yang membawa kita semakin dekat dengan Tuhan?

Tapi bukannya untuk dekat dengan Tuhan itu sebenarnya adalah tanggung jawab kita masing-masing? ‘Orang yang tepat’ bukan berperan sebagai orang tua rohani kita. Bukan. Karena jika begitu, pasti akan ada yang berperan menjadi anak-anak. Dan seperti yang kita tau, anak-anak akan tumbuh dewasa dan meninggalkan orang tuanya. Tidak dengan pasangan hidup. Pasangan hidup bukan orang tua kita.
Aku setuju jika orang yang tepat adalah orang yang mau diajak bersama-sama bertumbuh ke arah Tuhan, selama hidupnya.

Bayangkan seseorang yang akan selalu bersamamu. Seseorang yang masakannya akan selalu kamu nikmati. Seseorang yang bau keringatnya akan selalu kamu hirup. Seseorang yang akan kamu lihat dimana pun disekitar rumah. Seseorang yang akan membesarkan anak-anak bersamamu. Seseorang yang bersamanya kamu akan menua dan tinggal bersama meskipun tidak ada lagi romantisme dan bunga-bunga asmara!

Senin, 04 Desember 2017

Menjadi Penggemar K-pop

 
image from https://korea.iyaa.com
Fangirling, bias, army, exo-L..

Anak-anak cewek penggemar K-Pop pasti tau dengan istilah-istilah itu. Sebagai anak yang lahir tahun 90an tentu saja nggak ada yang bisa ngalahin Super Junior terutama Siwon (I’m ELF) hahaha. Oke, sebenarnya sedikit penasaran dengan beberapa postingan beberapa siswi di sosial media mereka tentang MAMA (Mnet Asian Music Award). Alhasil, aku download di youtube beberapa video acara tersebut. Tenyata MAMA adalah acara penghargaan musik di Korea selatan yang disiarkan M-net setiap tahunnya.

Aku bukan K-Popers addict yang selalu nontonin aksi panggungnya para boyband korea sih. Sesekali, aku menikmati aksi tari dan video klip boyband/girlband Korea yang unik. Cewek-cewek cantik yang imut dan cowok-cowok cantik yang keren. Mereka mengemas suatu karya sedemikian rupa sehingga mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya.

Sebagai seorang Kristen, boleh nggak sih punya bias/idola? Boleh nggak kita melakukan kegiatan fangirling (nontonin aksi konser)?

Menurutku, Tuhan yang menciptakan dunia ini adalah Tuhan yang juga penyuka seni termasuk musik. Lihat saja semua ciptaannya yang begitu indah dan tak tertandingi. Aku rasa nggak ada yang bisa mengalahkan seleranya Tuhan dalam hal seni.

Ketika aku melihat tayangan-tayangan video di youtube, aku terkagum dengan visual panggung yang keren, penataan lampu, suara dan tarian mereka yang mempesona. Tapi ada beberapa hal yang terkadang kita sebagai fangirling perlu sadari dan ketahui:

Makna dan tujuan setiap karya seni itu penting
Apa arti lagu itu? Untuk apa lagu itu dibuat? Oke, kalau mau cari artinya kan tinggal pakai google translate tapi kalau tujuan lagu itu dibuat gimana cara taunya? Nah. Sudah dibilang diawal yah guys, aku juga suka dengar lagu-lagu sekuler bahkan K-POP. Tiap-tiap orang punya batasannya sendiri

Kamis, 30 November 2017

Dear No One

Ketika aku mengalami pengalaman bersama Allah, aku selalu bertanya-tanya bagaimana pengalamanmu bersama Allah.

Aku berdoa untukmu, semoga kau menyadari bahwa kau tidak pernah sendirian.
Ketika kau menangis disudut ruangan kamar.
Ketika kau tertawa bersama rekan-rekanmu.
Aku berdoa supaya kau mengalami kasih-Nya yang memuaskan.
Aku berdoa supaya Kau menjadi penuh dan utuh di dalam Allah saja.

Aku ingin kau tau bahwa bagiku tidak masalah jika harus menunggu.
Kurasa kita juga sama-sama setuju.
Bahwa waktu adalah sepenuhnya ada ditangan Allah.
Bahwa rencananya selalu sempurna.
Aku berdoa supaya kita menantikan pimpinan Allah.
Untuk tinggal diam dan mendengar suara-Nya.

Disaat Kita Perlu Jujur Kepada Diri Sendiri dan Allah


Di saat ketika aku merasa sendiri, Tuhan mengingatkan aku bahwa Dia tidak pernah meninggalkanku. Beberapa hari lalu aku menyadari sisi kemanusiaanku, bahwa aku tidak bisa seterusnya berpura-pura kuat. Aku tidak bisa seterusnya tampil sempurna. Itu sangat melelahkan. Di hari ketika aku jujur dihadapan Allah atas apa yang aku rasakan, aku merasa bebas. Meski ketakutan dan kekhawatiran itu tak sepenuhnya sirna, namun Tuhan mengingatkan aku kembali bahwa aku begitu dicintai.

Tidak ada yang jauh lebih baik selain berada di dalam hadirat Allah dan menjadi apa adanya. Kita bisa berpura-pura dihadapan manusia, tapi tidak dihadapan Allah Sang Pencipta kita. Bagaimana pun, Dia menerima kita sepenuhnya. Yang perlu kita lakukan adalah menerima diri kita sendiri apa adanya. Aku mengakui dan menerima kenyataan bahwa ternyata aku memiliki kelemahan. Aku mengakui semuanya dihadapan Allah, perasaanku, keinginanku, berharap aku bisa mengerti, mengapa aku seperti itu? Sungguh, menerima diri sendiri apa adanya bukanlah sesuatu yang mudah.

Rabu, 29 November 2017

Di Hari Ulang Tahunku


Hari ini aku 24 tahun. Ada banyak hal yang aku sadari telah berubah. Aku sadar bahwa aku adalah manusia yang senantiasa perlu anugrah Allah. Aku sadar bahwa mengakui kelemahanku dihadapan Allah adalah sumber kekuatanku. Berhenti mencoba menjadi sempurna dan menyadari bahwa aku tidak bisa menyenangkan semua orang bahkan terkadang memuaskan ekspektasiku terhadap diri sendiri. Aku sadar bahwa menjadi berkat bukan berarti menjadi orang yang penting, tapi bagaimana menganggap orang lain itu penting. Dari semua hal yang telah terjadi selama usiaku yang hampir seperempat abad ini, aku bersyukur Allah tidak pernah meninggalkan aku. Untuk kasih-Nya yang besar yang memampukan aku menjalani hari-hariku. Dia yang selalu bersabar kepadaku tiap kali aku menanyakan keberadaan-Nya bahkan ketika aku telah menulis seperti ini. Aku tidak selalu bisa merasakan keberadaan Tuhan. Aku terkadang tidak bisa mengenali perbuatan-Nya. Tapi aku tau, keinginanku untuk mengenal-Nya itu Dia ketahui dan aku tau bahwa Tuhan selalu ada bahkan begitu dekat meskipun aku tidak bisa merasakannya.


Aku akan terus berjalan, menyadari bahwa Allahlah yang memampukanku untuk melakukannya. Tidak ada yang jauh lebih indah dari penyertaan-Nya. Bahkan ketika aku tidak tau apa yang sedang aku minta, Tuhan bersabar dan mengajarkanku arti percaya. Semoga aku dalam segala kekurangan ini mampu untuk menyatakan kasih kepada setiap orang yang ada disekitarku. Untuk terus melayani karena aku telah terlebih dahulu dilayani. Terimakasih Tuhan untuk kasih-Mu yang tak terkatakan. Mengenal-Mu adalah anugrah terindahku. 

Rabu, 18 Oktober 2017

Kenapa Bisa Galau?

image from www.unsplash.com

Galau bukan hal yang asing ditelinga kita terutama bagi para remaja, istilah galau sering digunakan ketika mereka lagi sedih. Bahkan orang  yang usianya bisa dikatakan dewasa pun, bisa mengalami galau. Aku juga pernah galau, bahkan mungkin akan galau lagi dikemudian hari (haha). Dari galau level 1 sampai level 10 aku pernah mengalaminya. Itu kenapa aku perlu menulis ini, sehingga aku bisa mengingatkan diri aku sendiri.  Bukannya bangga, tapi sekarang aku menyadari kenapa aku diijinkan mengalami pahit-asinnya galau itu.

Kenapa sih kok kita bisa galau?

1.     1.  Allah bukan jadi yang utama
Kita menginginkan hal lain selain kehendak Tuhan, itu alasan utama kenapa galau bisa merundung kita. Memang bukan hal yang mudah menyelaraskan keinginan kita dengan keinginan Tuhan, aku tau

Drama Korea dalam Kehidupan Remaja Kristen

image from www.soompi.com

Jalan cerita yang menarik dan aktor/artis yang rupawan merupakan daya tarik tersendiri dari drama Korea. Hingga saat ini mungkin sudah puluhan drama Korea yang aku tonton. Aku suka menonton drama Korea yang bergenre romantis dan komedi. Semua berawal ketika SMA, drama Korea pertama yang aku sukai adalah Dream High. Drama yang menceritakan tentang pencarian jati diri seorang remaja SMA itu membuatku semangat untuk juga meraih mimpi. Kemudian aku mulai mengidolakan beberapa aktor Korea dan mendengarkan lagu-lagunya berulang-ulang. Terkadang aku begitu tenggelam dalam chemistry yang diperankan oleh dua sejoli di drama tersebut dan mulai berkhayal bagaimana jika aku menjadi sang pemeran utama.

Setelah aku bertobat dan mengenal Kristus secara pribadi, aku masih menyempatkan diri untuk menonton drama Korea diwaktu senggangku. Namun seiring berjalannya waktu aku menyadari ada beberapa hal  tentang drama Korea yang dapat mengganggu pertumbuhan imanku jika aku tidak bijaksana menyikapinya.

Berikut 5 hal akibat menonton drama Korea yang menurutku dapat menggangu pertumbuhan iman:

1.     1.  Kehilangan semangat untuk bersekutu dengan Tuhan
Karena jalan ceritanya yang membuat penasaran aku ingin terus menonton drama Korea sampai

Rabu, 04 Oktober 2017

Keinginan

Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri
Dan tidak semua keinginan berasal dari Allah
Semakin aku menyadarinya
Semakin aku merasa kegilaan menyerangku
Ini tidak masuk akal

Andai hati bisa mengerang
Akan seperti apa suaranya?
Hanya membisu disudut ruang
Menguap oleh panasnya logika
Ini tidak masuk akal