Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2021

Curahan Hati di Awal Tahun



Hai!

Sudah lama sekali aku tidak menulis di blog. Rindu rasanya menulis isi hati dan pemikiranku di blog pribadi. Selamat tahun baru 2021 ya!

Aku tidak tahu siapa yang akan membaca artikel ini, tapi aku harap kalian bisa mendapatkan sesuatu dari membaca tulisan ini yah.

Oke, mari kita mulai.

Pada bulan Mei tahun ini, akan menjadi tahun ke 4 aku melayani di sebuah lembaga Kristen. Sebagian orang sudah tahu ceritanya, bagaimana aku bisa memutuskan untuk melayani penuh waktu. Aku sempat menuliskan di sini dan membuat podcast tentang ini.

Semua karena anugerah Tuhan kalau aku boleh melayani hingga saat ini. Aku sungguh menikmatinya. Namun, bukan berarti aku tidak pernah mengalami kesulitan atau tantangan selama melayani. Seringkali aku berjuang untuk melawan kedaginganku, ingin sekali untuk menuntut hak, merasa layak tapi juga insecure secara bersamaan. Bingung kan? Hehehe. Rasanya, sungguh nano-nano.

Minggu, 19 Agustus 2018

1 Tahun Menjalani Panggilan Tuhan: Aku Pasti Sudah Gila!


“Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku…”
Sudah 2 tahun lamanya ketika aku pertama kali mengetahui panggilan Tuhan dalam hidupku dan semenjak tulisan ini dibuat sudah 1 tahun 3 bulan aku menjalaninya. Masih  tidak percaya atau tidak terima, terkadang masih sulit membedakannya. Bulan Agustus adalah bulan yang mengingatkanku akan penyangkalan diri terbesar dalam hidupku. Ya, jika saja cawan ini boleh lalu. Jika saja aku boleh memilih. Namun disinilah aku dalam suatu kesempatan dapat bertemu dengan ratusan orang yang melayani dibidang yang sama: pemuridan. Aku adalah satu dari ratusan staf sebuah yayasan Kristen yang melayani siswa dan mahasiswa di kota-kota besar di Indonesia.
Aku rasa aku sudah jatuh cinta. Aku telah jatuh cinta dengan pelayanan ini, dengan siswa-siswa yang hidupnya kacau balau ini, aku jatuh cinta dengan Allah yang terus menyatakan kasih-Nya kepada jiwa-jiwa yang aku temui. Aku jatuh cinta terhadap cara Tuhan yang mau memakai manusia sepertiku menjadi alat-Nya. Lalu kemudian aku berpikir, sepertinya aku sudah gila. Aku gila karena meninggalkan kesempatan untuk bekerja dibidang yang sesuai dengan jurusanku, hidup jauh dari meriah dan gemerlapnya ibu kota, dipandang remeh oleh orang-orang terdekat yang tidak memiliki misi yang sama. Aku pasti sudah ‘gila’.

Tuhan memakai orang-orang yang rela dianggap gila oleh dunia untuk menjadi alat-Nya.
Ada satu titik dimana aku takut kehilangan kewarasanku. Dalam artian, aku takut menyerahkan seluruh hidupku kepada rencana-Nya yang seringkali bagi otak manusia ini tidak masuk akal. Lalu aku teringat akan kisah Nuh saat dia diperintahkan oleh Allah untuk membuat bahtera (Kejadian 6-7) bagaimana dia tetap taat meski bisa dibayangkan, gunjingan yang dia dapat dari umat manusia kala itu. Aku juga teringat ketika Petrus dan saudara-saudaranya meninggalkan perahu mereka yang penuh dengan ikan untuk mengikut Yesus (Lukas 5:1-11), mereka pasti dianggap sudah ‘gila’ saat itu karena

Rabu, 03 Januari 2018

Bagaimana Orang yang Tepat Seharusnya?

image from www.unsplash.com

Bagaimana sih definisi yang tepat untuk menjelaskan tentang ‘orang yang tepat’ itu?
Apakah orang yang membawa kita semakin dekat dengan Tuhan?

Tapi bukannya untuk dekat dengan Tuhan itu sebenarnya adalah tanggung jawab kita masing-masing? ‘Orang yang tepat’ bukan berperan sebagai orang tua rohani kita. Bukan. Karena jika begitu, pasti akan ada yang berperan menjadi anak-anak. Dan seperti yang kita tau, anak-anak akan tumbuh dewasa dan meninggalkan orang tuanya. Tidak dengan pasangan hidup. Pasangan hidup bukan orang tua kita.
Aku setuju jika orang yang tepat adalah orang yang mau diajak bersama-sama bertumbuh ke arah Tuhan, selama hidupnya.

Bayangkan seseorang yang akan selalu bersamamu. Seseorang yang masakannya akan selalu kamu nikmati. Seseorang yang bau keringatnya akan selalu kamu hirup. Seseorang yang akan kamu lihat dimana pun disekitar rumah. Seseorang yang akan membesarkan anak-anak bersamamu. Seseorang yang bersamanya kamu akan menua dan tinggal bersama meskipun tidak ada lagi romantisme dan bunga-bunga asmara!

Senin, 04 Desember 2017

Menjadi Penggemar K-pop

 
image from https://korea.iyaa.com
Fangirling, bias, army, exo-L..

Anak-anak cewek penggemar K-Pop pasti tau dengan istilah-istilah itu. Sebagai anak yang lahir tahun 90an tentu saja nggak ada yang bisa ngalahin Super Junior terutama Siwon (I’m ELF) hahaha. Oke, sebenarnya sedikit penasaran dengan beberapa postingan beberapa siswi di sosial media mereka tentang MAMA (Mnet Asian Music Award). Alhasil, aku download di youtube beberapa video acara tersebut. Tenyata MAMA adalah acara penghargaan musik di Korea selatan yang disiarkan M-net setiap tahunnya.

Aku bukan K-Popers addict yang selalu nontonin aksi panggungnya para boyband korea sih. Sesekali, aku menikmati aksi tari dan video klip boyband/girlband Korea yang unik. Cewek-cewek cantik yang imut dan cowok-cowok cantik yang keren. Mereka mengemas suatu karya sedemikian rupa sehingga mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya.

Sebagai seorang Kristen, boleh nggak sih punya bias/idola? Boleh nggak kita melakukan kegiatan fangirling (nontonin aksi konser)?

Menurutku, Tuhan yang menciptakan dunia ini adalah Tuhan yang juga penyuka seni termasuk musik. Lihat saja semua ciptaannya yang begitu indah dan tak tertandingi. Aku rasa nggak ada yang bisa mengalahkan seleranya Tuhan dalam hal seni.

Ketika aku melihat tayangan-tayangan video di youtube, aku terkagum dengan visual panggung yang keren, penataan lampu, suara dan tarian mereka yang mempesona. Tapi ada beberapa hal yang terkadang kita sebagai fangirling perlu sadari dan ketahui:

Makna dan tujuan setiap karya seni itu penting
Apa arti lagu itu? Untuk apa lagu itu dibuat? Oke, kalau mau cari artinya kan tinggal pakai google translate tapi kalau tujuan lagu itu dibuat gimana cara taunya? Nah. Sudah dibilang diawal yah guys, aku juga suka dengar lagu-lagu sekuler bahkan K-POP. Tiap-tiap orang punya batasannya sendiri

Kamis, 30 November 2017

Disaat Kita Perlu Jujur Kepada Diri Sendiri dan Allah


Di saat ketika aku merasa sendiri, Tuhan mengingatkan aku bahwa Dia tidak pernah meninggalkanku. Beberapa hari lalu aku menyadari sisi kemanusiaanku, bahwa aku tidak bisa seterusnya berpura-pura kuat. Aku tidak bisa seterusnya tampil sempurna. Itu sangat melelahkan. Di hari ketika aku jujur dihadapan Allah atas apa yang aku rasakan, aku merasa bebas. Meski ketakutan dan kekhawatiran itu tak sepenuhnya sirna, namun Tuhan mengingatkan aku kembali bahwa aku begitu dicintai.

Tidak ada yang jauh lebih baik selain berada di dalam hadirat Allah dan menjadi apa adanya. Kita bisa berpura-pura dihadapan manusia, tapi tidak dihadapan Allah Sang Pencipta kita. Bagaimana pun, Dia menerima kita sepenuhnya. Yang perlu kita lakukan adalah menerima diri kita sendiri apa adanya. Aku mengakui dan menerima kenyataan bahwa ternyata aku memiliki kelemahan. Aku mengakui semuanya dihadapan Allah, perasaanku, keinginanku, berharap aku bisa mengerti, mengapa aku seperti itu? Sungguh, menerima diri sendiri apa adanya bukanlah sesuatu yang mudah.

Rabu, 29 November 2017

Di Hari Ulang Tahunku


Hari ini aku 24 tahun. Ada banyak hal yang aku sadari telah berubah. Aku sadar bahwa aku adalah manusia yang senantiasa perlu anugrah Allah. Aku sadar bahwa mengakui kelemahanku dihadapan Allah adalah sumber kekuatanku. Berhenti mencoba menjadi sempurna dan menyadari bahwa aku tidak bisa menyenangkan semua orang bahkan terkadang memuaskan ekspektasiku terhadap diri sendiri. Aku sadar bahwa menjadi berkat bukan berarti menjadi orang yang penting, tapi bagaimana menganggap orang lain itu penting. Dari semua hal yang telah terjadi selama usiaku yang hampir seperempat abad ini, aku bersyukur Allah tidak pernah meninggalkan aku. Untuk kasih-Nya yang besar yang memampukan aku menjalani hari-hariku. Dia yang selalu bersabar kepadaku tiap kali aku menanyakan keberadaan-Nya bahkan ketika aku telah menulis seperti ini. Aku tidak selalu bisa merasakan keberadaan Tuhan. Aku terkadang tidak bisa mengenali perbuatan-Nya. Tapi aku tau, keinginanku untuk mengenal-Nya itu Dia ketahui dan aku tau bahwa Tuhan selalu ada bahkan begitu dekat meskipun aku tidak bisa merasakannya.


Aku akan terus berjalan, menyadari bahwa Allahlah yang memampukanku untuk melakukannya. Tidak ada yang jauh lebih indah dari penyertaan-Nya. Bahkan ketika aku tidak tau apa yang sedang aku minta, Tuhan bersabar dan mengajarkanku arti percaya. Semoga aku dalam segala kekurangan ini mampu untuk menyatakan kasih kepada setiap orang yang ada disekitarku. Untuk terus melayani karena aku telah terlebih dahulu dilayani. Terimakasih Tuhan untuk kasih-Mu yang tak terkatakan. Mengenal-Mu adalah anugrah terindahku. 

Rabu, 18 Oktober 2017

Kenapa Bisa Galau?

image from www.unsplash.com

Galau bukan hal yang asing ditelinga kita terutama bagi para remaja, istilah galau sering digunakan ketika mereka lagi sedih. Bahkan orang  yang usianya bisa dikatakan dewasa pun, bisa mengalami galau. Aku juga pernah galau, bahkan mungkin akan galau lagi dikemudian hari (haha). Dari galau level 1 sampai level 10 aku pernah mengalaminya. Itu kenapa aku perlu menulis ini, sehingga aku bisa mengingatkan diri aku sendiri.  Bukannya bangga, tapi sekarang aku menyadari kenapa aku diijinkan mengalami pahit-asinnya galau itu.

Kenapa sih kok kita bisa galau?

1.     1.  Allah bukan jadi yang utama
Kita menginginkan hal lain selain kehendak Tuhan, itu alasan utama kenapa galau bisa merundung kita. Memang bukan hal yang mudah menyelaraskan keinginan kita dengan keinginan Tuhan, aku tau

Drama Korea dalam Kehidupan Remaja Kristen

image from www.soompi.com

Jalan cerita yang menarik dan aktor/artis yang rupawan merupakan daya tarik tersendiri dari drama Korea. Hingga saat ini mungkin sudah puluhan drama Korea yang aku tonton. Aku suka menonton drama Korea yang bergenre romantis dan komedi. Semua berawal ketika SMA, drama Korea pertama yang aku sukai adalah Dream High. Drama yang menceritakan tentang pencarian jati diri seorang remaja SMA itu membuatku semangat untuk juga meraih mimpi. Kemudian aku mulai mengidolakan beberapa aktor Korea dan mendengarkan lagu-lagunya berulang-ulang. Terkadang aku begitu tenggelam dalam chemistry yang diperankan oleh dua sejoli di drama tersebut dan mulai berkhayal bagaimana jika aku menjadi sang pemeran utama.

Setelah aku bertobat dan mengenal Kristus secara pribadi, aku masih menyempatkan diri untuk menonton drama Korea diwaktu senggangku. Namun seiring berjalannya waktu aku menyadari ada beberapa hal  tentang drama Korea yang dapat mengganggu pertumbuhan imanku jika aku tidak bijaksana menyikapinya.

Berikut 5 hal akibat menonton drama Korea yang menurutku dapat menggangu pertumbuhan iman:

1.     1.  Kehilangan semangat untuk bersekutu dengan Tuhan
Karena jalan ceritanya yang membuat penasaran aku ingin terus menonton drama Korea sampai

Rabu, 02 Agustus 2017

Ketika Aku Merasa Sepertinya Tuhan Tidak Tau Apa yang Dia Lakukan

Image from www.freepik.com
Pernahkah kamu merasa bahwa Tuhan tidak melakukan sesuatu yang seharusnya Dia lakukan?
Oke, mungkin ini terdengar sangat sesat, tapi aku sering kali merasakannya.
Aku bergumul dalam pikiranku, merasa bahwa aku tau apa yang terbaik untuk diriku. Terkadang aku protes, mengapa Tuhan tidak mengijinkan segala sesuatu berjalan sesuai skenarioku?

Tuhan, apa dia orangnya?
Tuhan, aku rasa dia orang yang tepat.
Tuhan, mengapa dia tidak begini? seharusnya begini... begitu, kan...

Aku tidak tau bagaimana ekspresi Tuhan ketika bekali-kali mendengarkanku seperti itu. Mungkin Dia ingin menutup mulutku sambil berkata, diamlah, kamu tidak tau apa-apa!
Aku sadar, aku sering kali bersikap bahwa Tuhan tidak tau apa-apa. Padahal Dia adalah TUHAN.
Ya, aku tau.

Senin, 31 Juli 2017

Kapan Waktu yang Tepat untuk Pacaran?

Image from www.freepik.com
Kita semua pasti memiliki keinginan. Sebagai manusia yang berupa darah dan daging, munculnya rasa ingin akan sesuatu adalah kewajaran. Kita ingin coklat hangat saat cuaca sedang hujan dan dingin, kita ingin meneguk segelas es jeruk ketika cuaca panas, kita bahkan ingin dipeluk ketika sedang sedih atau membanting pintung ketika sedang marah. Keinginan-keinginan itu ada dalam diri kita dan bahkan kita tidak tau mengapa kita mengingininya. Kita akhirnya sadar, alasan mengapa kita mempunyai keinginan, karena kita adalah manusia. Keinginan itu yang membuat Adam merasa tidak ada satu pun hewan di taman Eden yang sepadan dengan dia, dia perlu sesuatu yang lain. Keinginan juga yang membuat Hawa memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Ada banyak jenis keinginan, salah satunya keinginan untuk memiliki pacar.
Mari kita bicara dengan jujur. Tidak ada manusia yang tidak menyukai lawan jenis ketika mereka telah akhil balik. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, saya mulai menyukai seseorang ketika kelas 3 SD itu berarti ketika saya berumur sekitar 9 tahun. Setiap orang pasti memiliki seseorang yang disukai dan menginginkannya untuk menjadi pacar. Setidaknya itulah yang diajarkan oleh
lingkungan kita ‘Apakah ada yang kamu sukai di kelas? Kamu aneh kalau tidak menyukai siapa pun’ , ‘Aku menyukai dia, karena dia keren dan tinggi, kalau tipemu yang seperti apa?’

Kamis, 13 Juli 2017

Mencintai Manusia yang Berdosa

Kelompok Tumbuh Bersama
Kali ini saya tergerak untuk menulis tentang kasih. Jika ada sebuah pertanyaan 'Bagaimana kita bisa mengasihi seseorang yang sebenarnya tidak layak?' atau pertanyaan 'Apa yang dia lakukan telah membuatku kecewa, aku bahkan sulit untuk menghormatinya. Bagaimana bisa aku mengasihinya?'

Untuk menjawab semua pertanyaan itu, saya perlu waktu untuk merenung dan berpikir keras. Apakah benar-benar ada orang yang layak untuk dicintai? Jawabannya adalah tidak ada. Baik saya maupun anda, kita semua sebenarnya tidak layak untuk dikasihi. Kita adalah manusia yang berdosa. Sebaik apapun kita, pasti ada suatu kesempatan bagi kita untuk berbuat dosa dan menyakiti orang lain.
Tidak ada yang layak.

Namun kita mau mengingat pada pengorbanan Kristus di kayu salib. Dia yang sempurna dan agung rela untuk menunjukkan kasihnya kepada kita yang sangat tidak layak memperolehnya. Kita telah dikasihi dengan kasih yang sempurna.

Lalu mengapa seringkali pertanyaan 'mengapa  aku harus mengasihinya?' seringkali terngiang dipikiran kita? Kita sering kali ingin memilih untuk untuk menyimpan kesalahan orang lain dan mengabaikan mereka. Kita tersakiti dan tidak mampu mengampuni. 

Senin, 13 Maret 2017

3 Hal yang Perlu Dilakukan Ketika Memiliki Gebetan

Sebagai seorang lajang tentunya wajar jika kita akhirnya memiliki gebetan. Ketika kita mulai tertarik pada orang lain, kita pasti ingin tau banyak tentangnya lalu mulai beraksi layaknya FBI dan mulai mengamati dia bahkan mengintip semua sosial medianya. Saya rasa memiliki gebetan bukan hal yang salah. Ketika saya menulis tentang “Tipe” saya tergerak untuk kemudian menuliskan tentang hal ini, yaitu bagaimana jika kita memiliki seratus seorang  gebetan?

Nafsu Jatuh cinta pada pandangan pertama kebanyakan selalu terjadi ketika yang menjadi fokus utama kita adalah fisik. Saya pribadi kurang setuju dengan ungkapan cinta pada pandangan pertama ini karena menurut saya cinta yang akan berdiri teguh tidak sekedar dibangun dari ketampanan atau kecantikan seseorang. Namun tidak menutup kemungkinan jika itu merupakan karunia dari Tuhan kamu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan calon pasangan hidupmu lalu menikah dengan dia. Tapi sekali lagi, jatuh cinta karena fisik adalah dasar yang sangat amat rapuh untuk membangun sebuah hubungan.

Inilah tiga hal yang dapat membantumu ketika kamu memiliki gebetan

Perhatikan cara dia bersikap, berbicara dan memperlakukan orang lain

Saya pun akan dengan mudah mengagumi ketampanan seorang pria namun itu hanya sebatas seperti mengagumi sebuah lukisan di sebuah pameran seni. Ya, siapa yang tidak menyukai keindahan? Tuhan menciptakan keindahan di dunia ini (alam, manusia, musik, seni) untuk bisa membuat kita merasa bahagia dan takjub. Namun selayaknya Allah, keindahan sejati tidak dapat dilihat, disentuh, atau di dengar, keindahan sejati dapat kita rasakan melalui hati.

Selasa, 07 Maret 2017

Ingatkan Kami pada Salib

Diriku menatap pada salib
Dalam diriku yang halus dan ringan
Meski begitu tetap keluh kesah terselip
Ini bukan beban yang seharusnya bukan?
Ini hanya hal sepele yang kau anggap penderitaan
Salibmu sekedar rasa ragu mengabaikan etalase toko
Atau berhenti memuas hasrat untuk makan
Salibmu berwarna merah muda
Yang terasa berat hanya karena memikul gejolak cintanya remaja
Pikullah tapi jangan terlalu serius, sering-seringlah bercanda
Padahal Tuhan, Kau begitu serius ketika mati bagi kami diatas salib milikMu
Yang kasar dan merah penuh darah
Banyak paku dan diselimuti debu
Sama sekali jauh dari kemuliaan

Selasa, 28 Februari 2017

5 Pertanyaan yang Perlu dijawab Ketika Jatuh Cinta Pada yang Berbeda Iman

 
Ilustrasi oleh Lily Elserisa
Aku telah beberapa kali menyukai laki-laki yang berbeda iman dan 2 kali berpacaran dengan mereka. Lingkungan sosialkulah yang membuatku sulit menghindar dari hubungan dengan laki-laki yang berbeda iman denganku. Aku bersekolah negeri sejak taman kanak-kanak hingga kuliah, mayoritas teman-temanku adalah muslim.

Dulu aku beranggapan bahwa tidak salah untuk jatuh cinta dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Karena bukan salahku jika aku tumbuh besar di lingkungan seperti itu, kan? Aku tumbuh menjadi seorang remaja yang ingin menikmati rasanya dicintai dan mencintai, tidak ada yang bisa menghalangiku saat itu. (Baca cerita lengkapnya disini)

Hingga ketika aku berusia 17 tahun, aku mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Aku mengikuti sebuah retret yang akhirnya mengubah pola pikirku tentang bagaimana seharusnya aku hidup. Namun aku masih memiliki hubungan yang spesial dengan seseorang yang tidak mengenal Kristus.

Hubungan itu terus berlanjut selama 2 tahun. Tidak mudah untuk melepaskan seseorang yang waktu itu kuanggap sebagai cinta pertamaku. Namun seiring berjalannya waktu, Tuhan membentuk karakterku sedemikian rupa hingga membuatku mengerti bahwa hubungan itu tidak dapat berlanjut.

Aku mengerti bagaimana perasaan ketika jatuh cinta dengan mereka yang berbeda iman dan bagaimana sulitnya melupakan dia. Perasaan itu sungguh nyata, namun aku sadar bahwa aku tidak dapat pergi menuju kekekalan dengan terus memeliharanya.

Pertanyaan-pertanyaan di bawah inilah yang membantuku untuk merenung dan mengambil keputusan di dalam hubungan yang rumit itu. Jika kamu juga mengalami apa yang dulu pernah aku alami, semoga pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantumu juga.

Selasa, 14 Februari 2017

Single for a Reason


Di hari yang katanya hari kasih sayang ini, aku tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Semuanya berjalan seperti hari-hari biasa karena setiap hari aku tau bahwa aku dikasihi oleh Allah dengan kasih yang besar. Butuh waktu yang lama untuk menyadari hal ini, dulu aku orang yang kurang percaya diri. Meskipun kadang pernah merasa nobody doesn’t want me to be his wife tapi itu nggak sesering dulu. Ketika pemikiran itu muncul, Tuhan selalu menunjukkan bahwa diriku berharga dimata-Nya dan tidak membutuhkan seorang pria untukku mengetahui hal itu. Dalam masa lajang ini aku diajak untuk semakin mengenal kasih Allah dan itulah yang menunjukkan nilai diriku, yaitu bagaimana Allah melihatku. Pengorbanan Kristus di kayu saliblah kisah cinta terindah dijagat raya. Bagiku, dan aku percaya bagi setiap orang percaya yang mengalami Kristus dalam hidupnya pasti mengetahui hal ini. Tidak ada yang bisa menyamai damai yang Dia beri. Baik itu harta kekayaan maupun suami atau istri idaman, semuanya itu hanya secuil berkat dari Tuhan. Namun sumber sukacita sejati bukan berasal dari itu semua, sumber sukacita sejati berasal dari persekutuan dengan Tuhan. 

Dalam masa lajang ini aku menyadari bahwa Tuhan memiliki sebuah alasan mengapa aku harus melewatinya yaitu untuk menjadi semakin serupa dengan Dia dan menjadi berkat. Aku tidak akan pernah bahagia ketika memiliki pacar jika aku tidak bahagia ketika aku sedang melajang. Meskipun begitu, sering kali terlintas dibenakku ketika melihat orang lain membina sebuah hubungan yang serius aku berkata dalam hati “Ya Tuhan, giliranku kapan?”

Selasa, 31 Januari 2017

Celotehan Tengah Malam Ketika Mata Ini Enggan Terlelap

Sudah lama rasanya saya tidak bercerita atau menulis opini di blog ini. Ada banyak kesibukan meski itu sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan. Ada banyak target yang ingin dicapai, ada banyak mimpi yang ingin diraih. Salah satunya menekuni bidang tulis menulis. Namun pada suatu titik saya menyadari bahwa saya adalah orang yang moody. Sangat tergantung pada mood untuk menjadi produktif dalam menulis.

Pernahkah kamu merasa berdosa karena tidak melakukan sesuatu dengan maksimal?

Saya sering merasakannya. Bukannya ingin sok bisa segalanya, tetapi saya yang berusia 23 tahun 2 bulan ini masih belum bisa menemukan dengan jelas apa potensi dirinya. Mungkin karena terlalu banyak yang saya sukai dan lakukan, sehingga saya tidak begitu tau apa yang hal yang benar-benar baik jika saya lakukan. Sesuatu hal yang tidak ada yang bisa melakukannya seperti saya. Nah. Hal apakah itu?

Minggu, 08 Januari 2017

Lembar Tahun yang Baru

Tuhan apakah aku sungguh mencintai-Mu?
Atau aku mencintai konsep tentang Engkau dalam diriku?
Apa yang aku miliki sehingga aku berpikir bahwa Kau seharusnya bangga memilikiku?
Aku tak ubahnya rumput di pekarangan yang hijaunya hanya sebentar saja
Tapi Kau mengingatku
Siapakah aku ini sehingga Kau mengasihiku?
Kau pencipta seluruh alam semesta
Tetapi Kau mengingini hatiku

Kamis, 22 Desember 2016

Perjalanan Iman: Nyaris Tidak Kuliah dan Pengangguran


Kalau mau mengingat masa lalu, dulu saya orang yang nyaris tidak kuliah lho. Jadi di tahun 2011, saya dan Nona mencoba program beasiswa ke universitas idaman masing-masing. Tapi saya gak keterima dan Nona keterima. Kami memang mendaftar di universitas yang berbeda waktu itu. Sedih banget rasanya membayangkan saya gak bisa kuliah. Lalu ayah saya menawarkan untuk ikut SNMPTN (seleksi penerimaan mahasiswa untuk memasuki perguruan tinggi negeri yang dilaksanakan serentak seluruh Indonesia) yang waktunya pelaksanaannya kurang dari 2 minggu lagi. Saya pun mendaftar, membeli buku tes SNMPTN di gramedia dan belajar selama waktu yang tersisa. Bagaimana jika saya tidak lolos SNMPTN? Saya akan bekerja menggunakan ijasah SMK jurusan multimedia. Ya, karena kalau harus ikut biaya mandiri biayanya akan jauh lebih mahal.
Saya benar-benar pasrah pada Tuhan. Sebagai lulusan SMK saya tidak begitu tau pelajaran IPS  (jurusan yang saya pilih termasuk kategori IPS) karena di SMK fokus mempelajari kompetensi keahlian. Saya ingat waktu menangis di pelukan ayah saya karena saya tidak juga bisa mengerti soal matematika yang saya pelajari.

Namun dalam ketakutan dan kehawatiran itu iman saya diuji.

Selama masa belajar itu saya menulis di halaman paling belakang buku saya: Noni Elina Kristiani Sasrjana Sastra 2015. Semacam ungkapan iman dari diri saya. Saya rasa hanya karena kemurahan Tuhanlah saya bisa lolos SNMPTN saat itu. Saya akhirnya belajar bagaimana harus berserah kepada-Nya.

Senin, 26 September 2016

Hai Farisi dan Selamat Tinggal!

Tau tidak? Kalau sebenarnya setiap kita memiliki sisi orang Farisi di dalam diri kita masing-masing?
Iya. Itu lho sikap yang suka nyombongin perbuatan-perbuatan ibadahnya, yang mementingkan penampilan luar, bersikap rendah hati tapi juga membanggakan kerendahan hati itu sendiri, yang selalu menganggap bahwa dirinya jauh lebih baik dari orang lain.

Semakin saya mempelajari tentang sifat orang Farisi ini, semakin saya tau bahwa saya juga memilikinya. Jika saya bilang hanya sedikit, maka sebenarnya saya membohongi diri sendiri dan menjadi semakin Farisi.
Kefarisian itu muncul di postingan status, foto selfie, caption IG, hastag, cara berpakaian, dan banyak hal yang saya inginkan orang lain lihat dalam diri saya. 

Kamis, 18 Agustus 2016

Meresponi Panggilan


Saya selalu bertanya tentang bagaimana kita seharusnya bergumul dihadapan Allah?
Ataukah selama ini kita hanya memaksakan kehendak pribadi dan memaksa Tuhan menyetujuinya?
Yakub pernah bergumul bersama Allah sehingga kakinya terpelecok. Kejadian 32:24-25 "lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu."
Kita tidak akan pernah menang jika bergumul dengan Allah. Pada akhirnya, kitalah yang akan tersakiti jika kita tidak mau meresponi panggilan-Nya itu. Jangan tunggu sampai 'kaki terpelecok' baru dirimu mau bergerak.
Cara Tuhan bekerja dalam diri anak-anak-Nya memang berbeda-beda. Terkadang Dia menyatakannya melalui mimpi atau orang lain untuk menyatakan kehendak-Nya. Tetapi jika kita mengaku mengasihi Bapa kita yang di sorga, agaknya kita tidak perlu terlalu banyak tanya karena kita tau apa yang Bapa mau.
Hanya lakukanlah sesuatu.
Mendekat dan lekat dengan Allah jauh lebih penting ketimbang semua pertanyaan yang kita lontarkan. Karena kedekatan itulah jawaban kita. 
Diri-Mu tidak lagi perlu bergumul dan tersakiti karena ketidaktaatan, tetapi merdeka karena melakukan kehendak-Nya.

"Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan memohon..." Daniel 9:3