Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 April 2021

Kau adalah




Kau adalah yang mampu menyelami luasnya kedalaman hayalku. Menjelajahi liar dan tajamnya belantara pikirku. 
Teman menatap langit yang penuh dengan bintang dan heran mengapa kita tidak pernah bisa bosan. 
Kau adalah kekuatan yang terbungkus dalam bingkai kelembutan.
Kau adalah yang sabar tetapi juga tegas ketika ego mulai menguasaiku. 
Di saat matahari mulai bersinar di ujung timur pantai, kau adalah senyum yang aku inginkan ada di sampingku untuk merangkum semuanya. 
Kau adalah lagu yang akan selalu aku nyanyikan di hari yang hujan. Besi untukku mengasah diri. 
Kau adalah seteguk teh hangat yang memeluk perutku ketika kedinginan. Kasih yang mengingatkanku akan betapa murah hatinya Tuhan. 

Kamis, 03 Mei 2018

Gereja dan Bangku Kosong Paling Belakang

Photo by Keagan Henman, www.unsplash.com

Ada riuh yang tak bisa aku raih. Alunan musik atau ego yang sedang diimprovisasi. Lidahku kelu. Setelah tepuk tangan kau turun panggung dengan mengangkat dagu. Tak ada tatapan mata untukku. Aku adalah jeda dari keramaian. Sebisa mungkin harus ditiadakan.

Setiap acara demi acara kau bilang ini untuk jiwa-jiwa. Aku disudut bangku gereja yang paling belakang tempat yang tidak diraih bahkan oleh cahaya lampu temaram. Dengan sepatu kulit yang mulai mengelupas sedang kau membahas merek tas yang lidahku tak mampu mengejanya. Aku beranjak. Kau tak pernah tau bahwa aku pernah ada.

Rabu, 04 Oktober 2017

Keinginan

Tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri
Dan tidak semua keinginan berasal dari Allah
Semakin aku menyadarinya
Semakin aku merasa kegilaan menyerangku
Ini tidak masuk akal

Andai hati bisa mengerang
Akan seperti apa suaranya?
Hanya membisu disudut ruang
Menguap oleh panasnya logika
Ini tidak masuk akal

Selasa, 08 Agustus 2017

Penantian


Penantian
Apakah bisa dikatakan menanti jika tau apa yang dinanti?
Gejolak tanya masih tetap ada ketika menatap langit
Biru
Namun kadang juga kelabu
Seperti langit, kadang begitu pula hatiku
Dalam penantian yang kadang seru kadang lesu
Senja meninggalkan desah
Berharap esok diri ini tidak lelah atau bahkan menyerah
Jangan ada ragu dalam jingga
Karena saat malam pun kita bisa membuat cahaya
Masih ada harapan untuk melihat pagi bersama
Seteguk teh di beranda
Juga desah 'amin' disetiap doa

Aku tak tau siapa yang kunanti
Atau kapan waktunya berhenti

Selasa, 07 Maret 2017

Ingatkan Kami pada Salib

Diriku menatap pada salib
Dalam diriku yang halus dan ringan
Meski begitu tetap keluh kesah terselip
Ini bukan beban yang seharusnya bukan?
Ini hanya hal sepele yang kau anggap penderitaan
Salibmu sekedar rasa ragu mengabaikan etalase toko
Atau berhenti memuas hasrat untuk makan
Salibmu berwarna merah muda
Yang terasa berat hanya karena memikul gejolak cintanya remaja
Pikullah tapi jangan terlalu serius, sering-seringlah bercanda
Padahal Tuhan, Kau begitu serius ketika mati bagi kami diatas salib milikMu
Yang kasar dan merah penuh darah
Banyak paku dan diselimuti debu
Sama sekali jauh dari kemuliaan

Jumat, 13 Januari 2017

Siapa yang lebih kurindu?

Tetesan air mata di ujung Alkitabku
Menimbulkan sebuah tanya
Siapa sebenarnya yang paling aku rindu?
Dirimu atau Penciptaku?

Aku menggenggam tanganku sendiri
Hangat dan hidup
Membawa kepada angan tentang tubuh yang baru
Bagaimana wujud dan rupanya
Dan tentang sebuah pelukan dari seorang Bapa

Siapakah yang lebihku rindu?

Minggu, 08 Januari 2017

Lembar Tahun yang Baru

Tuhan apakah aku sungguh mencintai-Mu?
Atau aku mencintai konsep tentang Engkau dalam diriku?
Apa yang aku miliki sehingga aku berpikir bahwa Kau seharusnya bangga memilikiku?
Aku tak ubahnya rumput di pekarangan yang hijaunya hanya sebentar saja
Tapi Kau mengingatku
Siapakah aku ini sehingga Kau mengasihiku?
Kau pencipta seluruh alam semesta
Tetapi Kau mengingini hatiku

Kamis, 01 Desember 2016

Puisi: Langit Indonesia

Seberkas awan melintasi langit Indonesia
Putih kelabu juga jingga
Menimbulkan tanya yang mengusik jiwa
Mengapa kakiku berpijak ditanahnya?
Kini berderap tanah Indonesia
Yang dulu pernah tercurah oleh darah
Dari pahlawan yang melawan penjajah
Namun kini kami terengah
Karena perbedaan membuat kami seolah terpisah

Ada keramaian di ujung jalan
Kertas-kertas juga berserakan
Anak-anak kami ketakutan
Langkah kami penuh dengan kekhawatiran
Padahal itu bukan mahkota duri
Atau cambuk besi
Ketika kelelahan melingkupi
Dan emosi tak bisa ditawar lagi
Ingatkan kami akan perih yang Kau alami
Memikul salib dan dicaci
Namun Kau memilih untuk mengampuni
Kami yang berdosa ini
Maka jangan biarkan kami berhenti mengasihi
Karena Kau telah memberi diri-Mu sendiri mati
Bukan hanya bagi kami
Tapi juga bagi mereka yang memaki

Meski berisik di ujung-ujung jalan
Tidak membuat kami takut namun tertantang
Untuk mengulurkan tangan bagi mereka yang menawarkan pedang
Seberkas awan melintasi langit Indonesia
Mengalunkan doa dari yang dikasihi-Nya
Tuhan, berbelaskasihlah pada Indonesia…


Puisi ini juga ada di www.warungsatekamu.org 

Senin, 17 Oktober 2016

Seperti Hujan

Hujan selalu bisa membuatku melamun
Suara tetesnya seperti hipnotisku
Ayo bercerita tentang seorang yang kau rindu
Derasnya semakin memaksaku
Seperti dentingan waktu yang memacu
Mungkin besok mungkin lusa
Atau mungkin tahun depan
Gemuruh buyarkan lamunanku
Sanggupkahku menunggu selama itu?

Jumat, 26 Februari 2016

Bukan itu... Tapi ini...

Apakah ini cinta
Atau hanya cinta kepada diriku sendiri?
Aku berkata mencintaimu saat ini
Ketika kita bahkan belum berjumpa
Apakah ini cinta
Ataukah halusinasi yang kumiliki
Bagaimana aku bisa mengetahuinya?
Lalu diriku melebur dalam pikiranku
Pikirku menyenangkan jika seperti itu
Selayaknya cerita di film atau roman
Aku menginginkannya, namun tidak sepenuhnya seperti itu.
Menyimpan kebohongan dengan menembunyikan duka dibalik akhir ‘bahagia selamanya’

Minggu, 24 Januari 2016

Jawaban Atas Pertanyaan


Entah ini dikatakan apa
Aku mencari ditempat dimana dulu dia berada tapi sekarang sudah tidak ada siapa-siapa
Kosong, tetapi semua lebih rapi dari biasanya
Aku berkeliling, bertanya-tanya apa yang hilang
Tapi tidak juga kuketahui
Kemudian aku mulai bertanya pada diriku sendiri apa yang sudah aku miliki lalu kemudian hilang?
Tidak ada.

Memang belum seharusnya tempat ini dihuni oleh seseorang,
Lihat saja, masih ada banyak yang perlu dibenahi
Seperti sarang laba-laba di pojok ruangan misalnya,
Kursi yang bantalannya perlu diganti, ah aku harus membuatnya nyaman berada disini