Tampilkan postingan dengan label Pacaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pacaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Mei 2019

Fokus


"Noni saudaramu sudah menikah loh, kamu kapan? Kamu nggak kepengen menikah ta?" 
Tanya seorang teman kepadaku. Pertanyaan klise yang sudah beberapa kali aku terima.
"Ya kepengen, lah... Cuma ya belum." 
"Kapan?"


Kapan.
Sebuah kata yang akhir-akhir ini begitu akrab di telinga. Bagaimana mungkin aku bisa menjawab pertanyaan yang hanya Tuhan yang tahu jawabannya? Dalam sebuah perjalanan aku telah berdamai dengan kata kapan. Berusaha berteman dengan kata itu dan menikmati jawaban yang tak kunjung ditemukan.


Satu hal yang aku ketahui pasti, Allah yang memegang kendali atas waktu, rencana-Nya sempurna. Aku tidak perlu mengetahui kapan tepatnya atau bahkan siapa. Aku hanya perlu percaya.

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."
Yeremia 29:11

Rabu, 02 Mei 2018

Fenomena #Temantapimenikah dan Nilai-nilai Iman Kristen

Photo from www.layar.id

Setelah film Dilan, film yang saat ini sedang hangat diperbincangkan adalah film Teman tapi Menikah. Film yang diangkat dari kisah nyata artis Ayudia Bing Slamet dan sahabatnya Ditto ini berhasil membuat banyak orang yang menonton baper. Selain itu, pemeran utama dalam film ini adalah Vanesha Prescilla seorang artis pendatang baru yang sebelumnya berperan sebagai Milea di film Dilan. Ada pro-kontra yang disampaikan oleh netizen di sosial media terkait dengan siapa visual couple terbaik, Iqball & Vanesha atau Adipati & Vanesha. Namun tentu saja tulisan ini tidak sedang ingin membahas hal itu, melainkan tentang apakah fenomena #TemantapiMenikah ini selaras dengan nilai-nilai Kristiani.

Gary Thomas seorang penulis dan pembicara Kristen dalam bukunya The Sacred Search mengatakan bahwa persahabatan adalah jantung relasional yang memompa darah dalam pernikahan. Dan, meskipun orang seringkali tertarik satu sama lain karena chemistry seksual, pasangan suami istri sebenarnya menghabiskan waktu menjadi seorang sahabat 95% lebih banyak daripada menjadi seorang pasangan seksual. Hal ini dikarenakan chemistry seksual naik turun dengan liar dan tak teratur dari pada persahabatan relasional, yang biasanya bertumbuh semakin mendalam seiring berjalannya waktu.

Rabu, 03 Januari 2018

Bagaimana Orang yang Tepat Seharusnya?

image from www.unsplash.com

Bagaimana sih definisi yang tepat untuk menjelaskan tentang ‘orang yang tepat’ itu?
Apakah orang yang membawa kita semakin dekat dengan Tuhan?

Tapi bukannya untuk dekat dengan Tuhan itu sebenarnya adalah tanggung jawab kita masing-masing? ‘Orang yang tepat’ bukan berperan sebagai orang tua rohani kita. Bukan. Karena jika begitu, pasti akan ada yang berperan menjadi anak-anak. Dan seperti yang kita tau, anak-anak akan tumbuh dewasa dan meninggalkan orang tuanya. Tidak dengan pasangan hidup. Pasangan hidup bukan orang tua kita.
Aku setuju jika orang yang tepat adalah orang yang mau diajak bersama-sama bertumbuh ke arah Tuhan, selama hidupnya.

Bayangkan seseorang yang akan selalu bersamamu. Seseorang yang masakannya akan selalu kamu nikmati. Seseorang yang bau keringatnya akan selalu kamu hirup. Seseorang yang akan kamu lihat dimana pun disekitar rumah. Seseorang yang akan membesarkan anak-anak bersamamu. Seseorang yang bersamanya kamu akan menua dan tinggal bersama meskipun tidak ada lagi romantisme dan bunga-bunga asmara!

Rabu, 02 Agustus 2017

Ketika Aku Merasa Sepertinya Tuhan Tidak Tau Apa yang Dia Lakukan

Image from www.freepik.com
Pernahkah kamu merasa bahwa Tuhan tidak melakukan sesuatu yang seharusnya Dia lakukan?
Oke, mungkin ini terdengar sangat sesat, tapi aku sering kali merasakannya.
Aku bergumul dalam pikiranku, merasa bahwa aku tau apa yang terbaik untuk diriku. Terkadang aku protes, mengapa Tuhan tidak mengijinkan segala sesuatu berjalan sesuai skenarioku?

Tuhan, apa dia orangnya?
Tuhan, aku rasa dia orang yang tepat.
Tuhan, mengapa dia tidak begini? seharusnya begini... begitu, kan...

Aku tidak tau bagaimana ekspresi Tuhan ketika bekali-kali mendengarkanku seperti itu. Mungkin Dia ingin menutup mulutku sambil berkata, diamlah, kamu tidak tau apa-apa!
Aku sadar, aku sering kali bersikap bahwa Tuhan tidak tau apa-apa. Padahal Dia adalah TUHAN.
Ya, aku tau.

Senin, 13 Maret 2017

3 Hal yang Perlu Dilakukan Ketika Memiliki Gebetan

Sebagai seorang lajang tentunya wajar jika kita akhirnya memiliki gebetan. Ketika kita mulai tertarik pada orang lain, kita pasti ingin tau banyak tentangnya lalu mulai beraksi layaknya FBI dan mulai mengamati dia bahkan mengintip semua sosial medianya. Saya rasa memiliki gebetan bukan hal yang salah. Ketika saya menulis tentang “Tipe” saya tergerak untuk kemudian menuliskan tentang hal ini, yaitu bagaimana jika kita memiliki seratus seorang  gebetan?

Nafsu Jatuh cinta pada pandangan pertama kebanyakan selalu terjadi ketika yang menjadi fokus utama kita adalah fisik. Saya pribadi kurang setuju dengan ungkapan cinta pada pandangan pertama ini karena menurut saya cinta yang akan berdiri teguh tidak sekedar dibangun dari ketampanan atau kecantikan seseorang. Namun tidak menutup kemungkinan jika itu merupakan karunia dari Tuhan kamu jatuh cinta pada pandangan pertama dengan calon pasangan hidupmu lalu menikah dengan dia. Tapi sekali lagi, jatuh cinta karena fisik adalah dasar yang sangat amat rapuh untuk membangun sebuah hubungan.

Inilah tiga hal yang dapat membantumu ketika kamu memiliki gebetan

Perhatikan cara dia bersikap, berbicara dan memperlakukan orang lain

Saya pun akan dengan mudah mengagumi ketampanan seorang pria namun itu hanya sebatas seperti mengagumi sebuah lukisan di sebuah pameran seni. Ya, siapa yang tidak menyukai keindahan? Tuhan menciptakan keindahan di dunia ini (alam, manusia, musik, seni) untuk bisa membuat kita merasa bahagia dan takjub. Namun selayaknya Allah, keindahan sejati tidak dapat dilihat, disentuh, atau di dengar, keindahan sejati dapat kita rasakan melalui hati.

Selasa, 28 Februari 2017

5 Pertanyaan yang Perlu dijawab Ketika Jatuh Cinta Pada yang Berbeda Iman

 
Ilustrasi oleh Lily Elserisa
Aku telah beberapa kali menyukai laki-laki yang berbeda iman dan 2 kali berpacaran dengan mereka. Lingkungan sosialkulah yang membuatku sulit menghindar dari hubungan dengan laki-laki yang berbeda iman denganku. Aku bersekolah negeri sejak taman kanak-kanak hingga kuliah, mayoritas teman-temanku adalah muslim.

Dulu aku beranggapan bahwa tidak salah untuk jatuh cinta dengan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Karena bukan salahku jika aku tumbuh besar di lingkungan seperti itu, kan? Aku tumbuh menjadi seorang remaja yang ingin menikmati rasanya dicintai dan mencintai, tidak ada yang bisa menghalangiku saat itu. (Baca cerita lengkapnya disini)

Hingga ketika aku berusia 17 tahun, aku mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Aku mengikuti sebuah retret yang akhirnya mengubah pola pikirku tentang bagaimana seharusnya aku hidup. Namun aku masih memiliki hubungan yang spesial dengan seseorang yang tidak mengenal Kristus.

Hubungan itu terus berlanjut selama 2 tahun. Tidak mudah untuk melepaskan seseorang yang waktu itu kuanggap sebagai cinta pertamaku. Namun seiring berjalannya waktu, Tuhan membentuk karakterku sedemikian rupa hingga membuatku mengerti bahwa hubungan itu tidak dapat berlanjut.

Aku mengerti bagaimana perasaan ketika jatuh cinta dengan mereka yang berbeda iman dan bagaimana sulitnya melupakan dia. Perasaan itu sungguh nyata, namun aku sadar bahwa aku tidak dapat pergi menuju kekekalan dengan terus memeliharanya.

Pertanyaan-pertanyaan di bawah inilah yang membantuku untuk merenung dan mengambil keputusan di dalam hubungan yang rumit itu. Jika kamu juga mengalami apa yang dulu pernah aku alami, semoga pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantumu juga.

Selasa, 14 Februari 2017

Single for a Reason


Di hari yang katanya hari kasih sayang ini, aku tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Semuanya berjalan seperti hari-hari biasa karena setiap hari aku tau bahwa aku dikasihi oleh Allah dengan kasih yang besar. Butuh waktu yang lama untuk menyadari hal ini, dulu aku orang yang kurang percaya diri. Meskipun kadang pernah merasa nobody doesn’t want me to be his wife tapi itu nggak sesering dulu. Ketika pemikiran itu muncul, Tuhan selalu menunjukkan bahwa diriku berharga dimata-Nya dan tidak membutuhkan seorang pria untukku mengetahui hal itu. Dalam masa lajang ini aku diajak untuk semakin mengenal kasih Allah dan itulah yang menunjukkan nilai diriku, yaitu bagaimana Allah melihatku. Pengorbanan Kristus di kayu saliblah kisah cinta terindah dijagat raya. Bagiku, dan aku percaya bagi setiap orang percaya yang mengalami Kristus dalam hidupnya pasti mengetahui hal ini. Tidak ada yang bisa menyamai damai yang Dia beri. Baik itu harta kekayaan maupun suami atau istri idaman, semuanya itu hanya secuil berkat dari Tuhan. Namun sumber sukacita sejati bukan berasal dari itu semua, sumber sukacita sejati berasal dari persekutuan dengan Tuhan. 

Dalam masa lajang ini aku menyadari bahwa Tuhan memiliki sebuah alasan mengapa aku harus melewatinya yaitu untuk menjadi semakin serupa dengan Dia dan menjadi berkat. Aku tidak akan pernah bahagia ketika memiliki pacar jika aku tidak bahagia ketika aku sedang melajang. Meskipun begitu, sering kali terlintas dibenakku ketika melihat orang lain membina sebuah hubungan yang serius aku berkata dalam hati “Ya Tuhan, giliranku kapan?”

Selasa, 07 Februari 2017

Tipe

photo by Noni Elina

Menjadi seorang jomblo selama 6 tahun bukanlah perkara mudah. Tapi bukan berarti itu tidak menyenangkan ya. Saya meyakini setiap orang memiliki pergumulan masing-masing, dengan memiliki pacar atau pun menikah, bukan berarti menyelesaikan semua masalah dalam hidup kita. Karena tujuan dari itu semua sama: pembentukan karakter kita.

Yap, setiap orang pasti memiliki masalah, entah itu jomblo, pacaran, bahkan menikah. Seni dalam menikmati setiap fase itulah yang penting. Dalam masa jomblo ini saya mengalami banyak sekali pengalaman yang luar biasa dengan Tuhan. Sebenarnya sedikit enggan untuk membahas hal ini, tapi saya tidak bisa menyimpan berkat ini sendiri. Tjieh

Jadi, selama 6 tahun Tuhan mendidik saya untuk bergantung pada Dia. Selama enam tahun itu saya jatuh cinta, patah hati, move on, dan akhirnya sekarang, tengah menanti sembari membenah diri. Tjieh lagi

Nah, selama penantian inilah saya dibentuk oleh Tuhan untuk menjadi seorang pasangan yang sepadan bagi dia (yang sampai sekarang saya masih gak tau siapa). Dalam masa pembentukan ini, saya masih jatuh bangun sih. Masih suka ngeyel dan susah diajar, well tapi saya mau terus berubah. Bukan hanya demi pasangan di masa depan, tapi terutama untuk Tuhan yang ingin saya semakin serupa dengan Dia.

Oke, saya rasa itu pembukaan yang terlalu panjang.

 Sebenarnya saya ingin membicarakan tentang tipe, yakni kriteria yang dimiliki untuk pasangan hidup. Saya punya tipe pasangan hidup yang menurut saya ideal (tapi nggak mau bocorin disini).

Selasa, 15 November 2016

Pacarku Tidak Seiman, dan Tuhan Mengingatkanku dengan Cara yang Tidak Terduga Ini

Aku mendambakan memiliki pacar sejak duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Sebagai seorang gadis yang sejak kecil menempuh pendidikan di Sekolah Negeri, sangat sulit bagiku untuk menemukan teman sepermainan yang seiman. Mulai dari aku duduk di Taman Kanak-Kanak hingga masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan, aku hanya menemui teman-teman Kristen seminggu sekali di gereja. Mungkin itu alasan mengapa akhirnya ketika aku mulai mengenal istilah ‘jatuh cinta’, orang yang menarik perhatianku selalu teman lelaki yang berbeda agama.
Selain itu, mungkin karena diriku yang pemalu dan kutu buku, tidak ada seorang teman lelaki yang mendekatiku. Pada akhirnya, aku hanya bisa menjadi seorang pengagum rahasia. Hingga suatu hari saat aku duduk di Sekolah Menengah Kejuruan, ada seorang siswa dari jurusan yang berbeda denganku yang melakukan PDKT (pendekatan) terhadapku.
Zainul* adalah seorang laki-laki yang tinggi dan atletis, dan bulu matanya juga membuat para gadis iri melihatnya. Aku diam-diam telah tertarik kepadanya sejak masa orientasi sekolah, dan kami akhirnya resmi pacaran ketika kami duduk di kelas 11.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Tips Move On dan Ciri-ciri Orang yang Sudah Move on

Patah hati pasti pernah dialami semua orang. Dari patah hati ringan sampai patah hati parah. Patah hati ada yang tinggal sejenak namun ada juga yang membekas sampai beberapa tahun. Setiap orang memiliki proses melupakannya sendiri. Namun bagaimana jika proses itu tidak berlalu sia-sia tapi kita bisa menarik pelajaran di dalamnya?

Berikut beberapa tips dari orang yang berlagak sering patah hati (padahal enggak) hanya seorang gadis yang ingin berbagi dan berharap tidak banyak lagi korban 'gagal move on' di dunia ini.

1. Jujur sama diri sendiri
Jika kita menunda untuk menangis hari ini, kita akan menangis suatu saat nanti dengan alasan yang sama. 
Kebanyakan kita yang patah hati tidak mau mengakui seberapa besar kekecewaan kita. Kita sibuk menjaga image supaya terlihat tegar dan baik-baik saja. Kita takut dikasihani oleh teman-teman kita, bahkan kita nggak mau mengasihani diri sendiri. Bukannya mau mengajarkan untuk rendah diri, tapi ketika kita mau jujur dan menerima emosi itu maka akan memudahkan kita untuk untuk kemudian pulih dari sakit hati. Jika kita membohongi diri sendiri maka emosi itu suatu saat akan datang lagi dan menghantui kita. 
Hadapi patah hatimu hingga kamu muak akan patah hati itu dan menyadari betapa kamu telah banyak menghabiskan waktu. It's OK to not be OK. We all have struggles. God loves you for who you are, but too much to leave you that way. :)

Jumat, 30 September 2016

Ketika Saya Merasa Aneh

Saat ini saya benar-benar berpikir. Apakah saya cukup normal untuk mengalami ini. Maksud saya adalah, dulu menurut saya adalah penting untuk memiliki seseorang yang disukai. Setidaknya seseorang yang tiap hari kamu selalu buka profil facebook atau instagramnya untuk sekedar mencari tau apa yang sedang dia pikirkan. Dulu itu yang menjadi pemikiran rutin saya. 
Merasa menggebu-gebu tiap kali melihat namanya di timeline, tapi saat ini, benar-benar tidak ada yang membuat saya menggebu-gebu ketika saya men-scroll timeline mana pun. Menggebu-gebu itu datang hanya ketika saya menerima kabar bahwa gaji saya sudah di transfer. Saya juga tidak sedang memata-matai seseorang. Saya tidak memiliki seseorang yang khusus untuk dipikirkan (kecuali orang tua dan saudara-saudara saya).  

Maka dari itu saya berpikir apakah saya menjadi aneh?
Apakah saya menyukai wanita? (Sepertinya saya sudah gila) Tentu saja tidak! Saya masih suka melihat bintang hallyu pria di drama korea.

Kemudian saya menyadari hal ini.
Saya bersyukur atas situasi ini.

Jumat, 16 September 2016

Bagaimana Seharusnya Sikap Kita Terhadap Teman Lawan Jenis Yang Sudah Memiliki Pacar

Malam hari ini saya merasa sangat terberkati sekali dan tergerak untuk menulis hal ini. Judul yang cukup panjang sebenarnya tapi saya yakin ada banyak dari kita yang sering bingung, bagaimana kita harus bersikap sama teman lawan jenis yang sudah punya pacar? Apa batasan-batasan yang harus ada?

Ini semua bermula ketika saya harus meminta tolong pada seorang teman laki-laki yang telah memiliki pacar. Dia adalah orang yang mengenal Kristus begitu pula dengan pacarnya. Saya tau bahwa hubungan mereka telah berlangsung cukup lama.
Namun ada satu hal yang menggelisahkan hati saya. Apakah ini baik jika saya merepotkan seorang yang telah memiliki kekasih?
Bagaimana perasaan kekasihnya jika mengetahui hal ini? Karena saya seorang wanita. Saya tau kebanyakan wanita akan merasakan cemburu meski hanya sedikit saja (biasanya banyak).

Sabtu, 10 September 2016

Aku pernah melakukannya dengan pacarku

Saya pernah mendengar kalimat itu keluar  dari mulut seseorang yang saya hormati. Kemudian saya berpikir dan merenung, apakah sesulit itu menjaga kekudusan dalam berpacaran?
Apakah kita cenderung menyerahkan diri pada hormon di masa muda kita yang bergejolak sehingga berkompromi dengan tidak menjaga kekudusan dihadapan Allah?
Kemudian hati kecil saya berkata
"Ah... Kamu belum tau aja gimana rasanya sekuat tenaga menahan nafsu... Punya objek yang buat dinafsuin aja nggak."
Hmmm.... -_-

Oke mungkin saya memang sedang tidak punya objek buat dinafsuin. Saya memang sedang tidak sedang dimabuk kepayang oleh cinta saat ini.
Tapi saya terlalu mengasihi diri saya yang jomblo ini. Ya, itu alasan saya menulisnya sehingga suatu saat ketika Tuhan mengijinkan saya memiliki pacar, saya akan mengingat hal yang saya tulis ketika saya masih jomblo ini. Tentang apa yang seharusnya tidak saya lakukan kelak. Sehingga dia (diri saya sendiri) ketika sedang berada dalam situasi yang bergejolak oleh hawa nafsu bisa berkata: "Ingat apa sudah kamu tulis di blog tentang menjaga kekudusan! Ingatlahhhh!!!"
Jadi boleh nggak sih, kita yang mengaku Kristen ini pacarannya pake ciuman, gandengan, pelukan, gitu? Boleh nggak sih berhubungan intim?

Jumat, 13 Mei 2016

Bersyukurlah kamu yang belum pernah pacaran

Langsung saja ya, tulisan ini terinspirasi ketika saya melihat status mantan di facebook yang awalnya pacaran dengan- menjadi bertunangan dengan- . Sebenarnya ini bukan tulisan galau. Bukan, oke. Hanya sebuah cermin yang saya gunakan untuk akhirnya menyadari "ah... Andai saja saya tidak pacaran waktu itu..."
Dia adalah pacar saya waktu SMK tepatnya 6 tahun yang lalu. Jujur dia pacar terakhir saya sampai saat ini. Yup! Saya sudah menjomblo 6 tahuuuun. Bukan karena belum bisa move on lho ya. Bukan karena saya belum bisa ngelupain dia juga. Bukan! Alasan klise yang sangat penting: kita beda iman.
Kita putus baik-baik.
Aku yang mutusin duluan. (Gak penting ya kayaknya ini disebutin)
To be honest, se honest-honestnya, saya sudah tidak memiliki perasaan apapun sama dia, sudah lama saya move on dari cinta monyet itu.
Tapi, ternyata meskipun perasaan sudah hilang, ingatan tetap nempel! Ini kenapa saya bilang diawal bahwa bersyukurlah kamu yang belum pernah pacaran sampai saat ini.
Karena kelak, kamu yang meskipun sudah gak punya perasaan apa-apa sama mantanmu, tapi akan (tetap) sedikit baper (bawa perasaan) ketika tau dia akan menikah dengan orang pilihannya.
Mungkin kamu bertanya "ah masa sih?"